Wisata Penglipuran Bali — saat merencanakan liburan ke Bali, banyak wisatawan mencari tempat yang menawarkan keunikan budaya dan keindahan alam. Salah satu destinasi yang wajib dikunjungi adalah Penglipuran, sebuah desa adat yang terletak di Kabupaten Bangli, Bali.
Desa ini dikenal karena keasliannya yang terjaga, arsitektur tradisionalnya yang khas, serta suasana yang tenang dan damai. Apakah Anda penasaran mengapa Penglipuran menjadi begitu menarik? Apa yang membuat desa ini berbeda dari tempat lain di Bali?
Artikel ini akan mengupas tuntas daya tarik utama, aktivitas yang bisa dilakukan, fasilitas yang tersedia, dan informasi penting lainnya tentang wisata di Penglipuran.

Hutan Bambu Penglipuran yang Menyejukkan
Salah satu kawasan yang paling banyak dicari wisatawan di Penglipuran adalah hutan bambunya, yang membentang di bagian belakang desa dan menjadi salah satu hutan bambu tertua serta paling terjaga di Bali. Deretan pohon bambu menjulang tinggi membentuk kanopi alami yang meneduhkan jalur trekking di bawahnya, menciptakan suasana sejuk dan tenang yang sangat kontras dengan udara panas di kawasan wisata pantai. Jalur trekking ringan di hutan ini cocok untuk semua usia dan menjadi spot foto favorit dengan latar batang-batang bambu yang berjajar rapi.
Kawasan Bebas Kendaraan Bermotor
Keunikan lain dari Penglipuran adalah aturan desa yang melarang kendaraan bermotor melintasi jalan utama pemukiman. Wisatawan yang berkunjung harus memarkir kendaraan di area yang telah disediakan lalu berjalan kaki menyusuri desa. Aturan ini menjaga suasana desa tetap tenang, bebas polusi suara, dan membuat pengalaman berjalan-jalan di antara rumah-rumah tradisional terasa lebih menyatu dengan lingkungan sekitar.
Upacara Adat dan Kalender Ritual Desa
Sebagai desa yang masih memegang teguh tradisi Bali Aga, Penglipuran rutin menggelar berbagai upacara adat sepanjang tahun, termasuk upacara yang berkaitan dengan pertanian, kesuburan, dan penghormatan leluhur. Jika beruntung berkunjung saat ada upacara berlangsung, wisatawan bisa menyaksikan prosesi adat lengkap dengan gamelan dan busana tradisional, memberikan pengalaman budaya yang lebih mendalam dibandingkan kunjungan pada hari biasa.
Kerajinan Bambu Khas Penglipuran
Berkat kelimpahan hutan bambu di sekitarnya, banyak warga Penglipuran yang mengolah bambu menjadi berbagai kerajinan tangan, mulai dari anyaman keranjang, peralatan rumah tangga, hingga hiasan dekoratif. Produk-produk ini dijual langsung oleh warga di sepanjang jalan desa dan menjadi oleh-oleh yang unik karena dibuat dengan teknik tradisional turun-temurun.
- Trekking santai menyusuri hutan bambu di belakang desa
- Berfoto di jalan utama desa yang bebas kendaraan bermotor
- Membeli kerajinan bambu buatan warga lokal
- Mencari tahu jadwal upacara adat sebelum berkunjung
- Menyempatkan diri singgah di Kintamani yang tidak jauh dari Bangli
Menggabungkan Kunjungan dengan Kawasan Bangli dan Kintamani
Karena lokasinya berada di jalur menuju Kintamani, banyak wisatawan menggabungkan kunjungan ke Penglipuran dengan melihat pemandangan Gunung dan Danau Batur dalam satu hari perjalanan. Kombinasi suasana pedesaan yang tenang di Penglipuran dan panorama pegunungan di Kintamani menjadikan rute ini salah satu perjalanan budaya-alam paling lengkap di Bali.
Tertarik menjelajahi hutan bambu dan desa adat Penglipuran sekaligus pesona Kintamani? Hubungi tim Kuta Bali Tour untuk konsultasi gratis via WhatsApp dan pesan private tour sesuai kebutuhan liburan Anda.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Di kabupaten mana Penglipuran berada?
Penglipuran adalah desa adat yang terletak di Kabupaten Bangli, Bali.
Berapa biaya masuk ke Desa Adat Penglipuran?
Biaya masuk ke Desa Adat Penglipuran dan Hutan Bambu biasanya sekitar Rp 15.000 hingga Rp 50.000 per orang, tergantung musim dan jenis wisatawan.
Berapa lama perjalanan dari Ubud ke Penglipuran?
Sekitar 45 menit hingga 1 jam, sehingga cocok dipadukan dengan rangkaian wisata di sekitar Ubud dan Bangli.
Apa saja yang bisa dilakukan di Penglipuran selain melihat rumah adat?
Anda bisa berjalan-jalan dan berfoto di Hutan Bambu, mengunjungi pura-pura kecil, serta berbelanja oleh-oleh khas Bali di pasar tradisional setempat.

